Monday, August 13, 2007

Dee: Aku Tak Suka Lagi ke Gereja, Tapi Masih Suka Baca Bibel

Sudah lama novelis Batak, Dee, merenungkan apa itu agama dan Tuhan sebelum akhirnya dia memeluk agama Buddha.

Artikel berbentuk wawancara ini dikutip Batak News dari Jaringan Islam Liberal, yang dipublikasikan pertama kali tahun 2003. Dee adalah nama pena bagi Dewi Lestari Simangunsong, penyanyi trio RSD, yang juga dikenal sebagai pengarang novel Supernova dan cerpenis. Dee menikah dengan Marcell Siahaan, yang juga seorang penyanyi.

DEWI LESTARI SIMANGUNSONG menuturkan tentang pengalaman spiritualnya. Ia menceritakan perenungan-perenungannya yang ekstrem tentang Tuhan dan gereja. Tiba-tiba, setitik sinar matahari sore masuk ke dalam gereja. Seketika itu gereja menjadi kuning semua. Bagus banget! Sampai-sampai saya merasa kalau tidak melihat matahari itu, saya akan menyesal seumur hidup.

Saya keluar, minggat dari khotbah. Saya pengin sekali melihat sinar matahari itu. Karena banyak pepohonan, akhirnya saya tak dapat melihat sinarnya langsung. Saya pergi dan kendarai mobil sampai jauh sekali dari gereja. Saya terhenti di sebuah rel kereta api. Saya menyaksikan rupa matahari yang akan turun, timbul-tenggelam. Mungkin hanya sekejap. Sekitar satu menit saja saya menikmati matahari yang saya kagumi itu. Tapi saya merasa, satu menit di rel kereta api itu jauh lebih berharga dari pada ibadah yang saya lakukan selama hidup saya.

Demikian nukilan cerita Dee Lestari, penyanyi yang juga penulis novel best seller ‘Supernova’, tentang pengalaman spiritualnya. Penyanyi bernama lengkap Dewi Lestari Simangunsong yang tersohor lewat grup Trio RSD (Rida Sita Dewi) mengungkapkan berbagai pengalaman keagamaannya dan persepsinya tentang agama dalam wawancara dengan Ulil Abshar-Abdalla pada hari Kamis, 4 September 2003.

ULIL ABSHAR-ABDALLA: Dee, dalam novel Anda banyak sekali dijumpai hal-hal yang bersifat renungan spiritual. Apa yang mendorong Anda untuk melakukan renungan-renungan semacam itu; apakah Anda pernah mengalami suatu peristiwa yang membuat terhenyak secara spiritual?

DEWI LESTARI (DEE): Sebetulnya, sejak kecil saya sudah senang melakukan perlamunan yang tendensinya ke hal-hal yang bersifat spiritual. Sejak kecil, saya memang hobi menghayal, dan sering kali saya terjebak ke dalam lamunan tentang pertanyaan-pertanyaan eksistensial-filosofis. Misalnya lamunan itu berisi: mengapa saya ada disini? Bisakah saya punya kehidupan yang lain? Neraka itu seperti apa, dan surga itu kayak apa?

Seringkali isi lamunan saya itu berada di luar cerita-cerita yang pernah saya dengar, tak sama dengan dogma-dogma yang saya pelajari, ataupun omongan orang yang umum beredar. Tapi saya memang tipe manusia yang tidak bisa dibilangin. Artinya, saya harus mencari jawaban itu sendiri, sehingga saya tak ingin cepat-cepat berpuas diri ketika membaca sebuah fenomena, atau menerima mentah-mentah sesuai dengan apa yang didiktekan orang. Saya selalu merasa bahwa pencarian spiritualitas adalah bentuk petualangan yang bersifat individual. Untuk itu, semua orang akan menjalaninya berbeda-beda.

ULIL: Apakah Anda hidup dalam lingkungan keluarga yang dapat disebut taat dalam beragama?

DEE: Ya. Ibu saya terhitung sebagai anggota majelis gereja. Selagi beliau masih ada (sekarang beliau sudah meninggal), selalu ada watch-dog moral yang mengharuskan saya pergi ke gereja dan sebagainya. Ayah saya, karena bertugas sebagai ABRI, sering berpindah-pindah tempat, sehingga kita relatif kurang banyak bertemu. Terkadang, kita hanya bertemu seminggu sekali. Tapi, ayah saya seorang yang moderat.

ULIL: Bagaimana agama diajarkan kepada Anda waktu kecil? Apakah sebagai doktrin yang penuh aturan, ancaman, horor, atau sebagai sesuatu yang menyenangkan hati anak kecil?

DEE: Sebetulnya saya tidak punya pengalaman yang traumatis dari sisi doktrin agama. Jadi menurut saya cukup menyenangkan, apalagi buat anak kecil. Ketika itu, yang paling menyenangkan adalah momentum seperti perayaan Natal. Tapi, memang lebih pada hal-hal yang bersifat seremonial ketimbang esensial. Esensi doktrin, justru saya pelajari baru-baru ini. Dulu, semuanya masih bersifat seremoni saja.

ULIL: Dalam perkembangannya, apakah Anda menemukan beberapa hal yang Anda anggap aneh atau janggal dalam doktrin agama yang pernah diajarkan pada Anda semasa kecil, sehingga menuntut Anda berpikir ulang?

DEE: Saya selalu berpikir tentang persoalan yang kelihatannya dapat ditemukan pada semua agama meski dengan kadar yang berbeda-beda, yaitu soal eksklusivitas. Soal itulah yang sedari dulu mengganggu benak saya. Saya selalu tinggal dan berinteraksi dalam lingkungan yang beragam. Teman saya datang dari agama yang bermacam-macam. Tapi ketika saya kembali ke “sekolah Minggu” atau ke gereja, di situ saya mendengar bahwa hanya orang Kristen yang akan masuk surga, dan bla-bla-bla. Ketika saya bertukar pikiran dengan teman-teman dari agama yang lain, mereka juga mengatakan hal yang sama.

Persoalan ini sama sekali tidak masuk ke dalam akal saya. Bagi saya ini paradoks. Di satu sisi kita mengatakan Tuhan Maha segalanya, Maha Esa, namun perjalanan menuju ke sana kok berkesan sangat tersekat-sekat. Banyak orang yang berpikiran eksklusif mengatakan bahwa setiap agama punya klaim kebenaran, dan di luar mereka adalah salah.

ULIL: Lantas, sejak kapan Anda mulai merasakan hal-hal yang Anda anggap janggal tadi itu?

DEE: Pada mulanya saya memulai perenungan itu dari cinta. Semuanya bermula dari konsep cinta. Kebetulan saja konsep cinta atau kasih sangat kuat dalam doktrin agama saya. Tapi kemudian saya mempelajari lebih dalam lagi. Saya melihat banyak orang yang melandaskan hubungan mereka atas dasar cinta, dan ketika cinta sedang mekar-mekarnya, sepertinya segalanya bisa terobati. Tapi di saat yang sama, cinta itu juga sangat mudah berbalik menjadi racun. Saya bingung melihat fenomena itu; kenapa bisa begitu? Cinta yang tadinya begitu menyegarkan, di satu titik justru bisa mematikan.

Dualitas semacam itu saya perhatikan juga dalam pengertian kita tentang Tuhan. Jadi ada Tuhan dan ada setan. Hanya saja, setan juga diciptakan oleh Tuhan. Bagi saya, ada hal yang tidak masuk dalam otak saya dalam masalah ini. Saya bingung, kenapa bisa ada dikotomi semacam itu. Sepertinya, manusia selalu saja melihat segala sesuatu dari dualisme semacam itu. Jadi, hidup ini memang penuh paradoks. Di tengah kebingungan semacam itu, akhirnya pada penghujung tahun 1999, saya membaca sebuah buku yang termasuk international best-seller, berjudul The New Revelation: A Conversation with God karangan Neale Donald Walsch. Terus terang, buku itu membuka wawasan saya.

ULIL: Jadi fungsinya semacam pembuka kotak pandora?

DEE: Betul. Sebelumnya, saya juga sudah melakukakn perenungan-perenungan, bahkan sampai pada titik yang cukup ekstrim. Saya sempat berpikir, apakah dunia memang tercipta hitam-putih, atau jangan-jangan mata manusia saja yang melihatnya demikian, sementara Tuhan sendiri sebenarnya abu-abu. Hanya saja, ketika Dia dihampiri lebih dekat lagi, ada spektrum hitam dan putih.

Nah, begitulah kira-kira isi buku yang saya baca itu. Waktu itu, saya membelinya secara instingtif saja. Ketika itu saya sudah selesai kuliah, sebelum menyelesaikan novel Supernova yang pertama. Terus terang, saya menulis Supernova, (juga) karena tergerak setelah membaca buku Neale Danald Walsch tadi. Pada suatu malam saya merasakan semacam ekstase. Soalnya, apa yang terjadi pada Neale itu juga terjadi pada diri saya. Dari situ, saya merasa bisa berbincang-bincang dengan Tuhan dengan begitu dekat, tidak ada jarak. Dan, hidup ini sepertinya adalah doa. Jadi tidak ada yang tidak tergenggam dalam tangan Tuhan. Dari situ saya merasa bahwa sebetulnya ekslusivitas dan kompartemen-kompartemen yang selama ini saya huni, sebetulnya adalah ilusi belaka.

ULIL: Dee, membaca beberapa kutipan novel Anda seakan membawa kita membaca sebuah risalah filsafat, bukan sebuah novel biasa. Saya ingin bertanya lebih jauh: selain buku The New Conversation: A Conversation With God, buku apa lagi yang membentuk cara pandang Anda terhadap agama?

DEE: Setelah saya membaca buku itu, saya seperti mengalami kehausan yang sangat-sangat. Berpangkal dari sana, saya lalu mulai mencari banyak buku-buku lainnya. Saking hausnya, saya bisa membaca tiga buku dalam satu hari. Waktu itu saya berusaha memahami semua agama. Tiba-tiba, saya malah tertarik untuk kembali lagi ke kompartemen-kompartemen tadi, tapi dari sudut pandang yang lain. Dulu saya memandangnya dari sudut pandang orang yang berada di dalam kompartemen itu (insider), sekarang saya berusaha mencari pendapat lain dengan memakai sudut pandang orang yang sudah keluar dari sebuah kotak (outsider).

ULIL: Anda dari awal bertipe suka merenung, tapi mengapa ketika kuliah di Universitas Katolik Parahyangan, Anda memilih jurusan hubungan internasional?

DEE: Sebetulnya, itu terjadi di zaman ketika saya belum mengenal jati diri. Saya cuma melihat namanya yang menarik untuk ukuran anak selepas SMA: hubungan internasional. Kalimat itu seolah-olah mengandung magic bagi anak SMA. Baru kemudian, ketika pertama masuk kuliah, saya sadar ternyata telah menjebakkan diri ke dalam sebuah cabang ilmu yang mempelajari persoalan politik.

ULIL: Bagaimana dengan pengalaman spritual-keagamaan Anda ketika itu?

DEE: Dari tahun 1993 sampai awal 1999, dan selama kuliah, sebenarnya tidak terjadi apa-apa. Tapi ada suatu momentum menarik ketika mama saya sudah meninggal. Kala itu saya pergi ke gereja di mana saya mendengar khotbah walau sambil terkantuk-kantuk. Waktu itu, saya merasa akan berdosa kalau keluar dan tidak mendengar khotbah. Tiba-tiba, setitik sinar matahari sore masuk ke dalam gereja. Seketika itu gereja menjadi kuning semua. Bagus banget! Sampai-sampai saya merasa kalau tidak melihat matahari itu, saya akan menyesal seumur hidup.

Akhirnya saya keluar, minggat dari khotbah, karena saya pengin sekali melihat sinar matahari itu. Karena banyak pepohonan, akhirnya saya tak dapat melihat sinarnya langsung. Saya lalu memutuskan untuk melarikan mobil, pergi megejar matahari itu sampai jauh sekali dari gereja. Saya terhenti di sebuah rel kereta api. Saya menyaksikan rupa matahari yang akan turun, timbul-tenggelam. Mungkin hanya sekejap, sekitar satu menit saja saya menikmati matahari yang saya kagumi itu. Tapi saya merasa bahwa, satu menit di rel kereta api itu jauh lebih berharga dari pada ibadah yang saya lakukan selama hidup saya.

ULIL: Anda seperti meninggalkan rumah Tuhan demi menuju ciptaan Tuhan?

DEE: Betul. Di situ saya melihat apa yang disebut keagungan Tuhan, kebesaran-Nya, dan lain sebagainya begitu masuk dan meresap dalam jiwa saya selama satu menit saja, dibandingkan bertahun-tahun saya melakukan ibadah tanpa tahu saya sebenarnya sedang berbuat apa. Saya tidak mengerti tujuannya apa. Saya hanya merasa seperti robot yang disuruh-suruh ke sini-ke situ tanpa adanya inner motivation yang lahir langsung dari sisi dalam diri saya.

ULIL: Anda telah memutuskan untuk meninggalkan khotbah gereja demi melihat keagungan Tuhan dari sisi yang lain. Setelah melihat keagungan Tuhan yang sangat spketakuler itu, bagaimana jadinya perkembangan dan pertumbuhan iman Anda, khususnya dalam menjalankan kehidupan sebagai seorang Kristen?

DEE: Sekarang saya melihat iman Nasrani saya dalam arti yang sangat luas. Mungkin, saya sudah tidak tertarik lagi ketika melihat suatu agama dengan aturan-aturan fisiknya saja. Terus terang, saya tidak lagi suka ke gereja, tapi saya masih suka membaca Bibel. Sekarang saya melihat agama sebagai property pribadi. Saya juga sudah menganggap segala hal adalah ritual, segala hal adalah ibadah. Saya menganggap semua hidup saya adalah ibadah, termasuk menulis Supernova. Kalau ada yang mengganggap menulis buku adalah hobi, bagi saya itu bukan lagi sekedar hobi. Bagi saya, itu adalah suatu kebutuhan. Menulis bagi saya adalah kegiatan yang sangat ritualistik. Ketenangan yang saya dapatkan darinya tidak bisa saya bandingkan dengan apapun.

ULIL: Dee, tadi Anda bercerita kalau belajar banyak agama. Apa yang Anda temukan setelah bertandang dan mengelana melihat banyak agama?

DEE: Misi saya ketika itu adalah untuk mencari benang merah agama-agama. Jadi, saya menyisihkan segala perbedaan, dan langsung berusaha menemukan esensi dari agama-agama yang saya pelajari. Saya merasa takjub, ternyata semuanya sama secara makrifat. Secara syariat memang berlainan, dan itu menurut saya memang karena sudah adanya pengaruh kebudayaan setempat.

Ketika misalnya Islam diturunkan di jazirah Arab, tak ayal lagi pasti ada pengaruh budaya setempat yang masuk dalam aturan main-aturan mainnya. Demikian juga dengan Kristen, Hindu, Budha, dan lain sebagainya. Tetapi ketika kita menceburkan diri dan tenggelam lebih dalam lagi ke relung-relung semua agama, disitulah kita baru akan menemukan suatu kubangan besar di mana semuanya menjadi larut, semua menjadi sama.

ULIL: Setelah Anda menemukan kenyataan bahwa (esensi) semua agama adalah sama, apa yang lantas Anda rasakan; apakah Anda merasa bahwa menjadi Kristen tidak lagi bermakna?

DEE: Justru sama sekali lain. Yang saya rasakan adalah penghargaan pada baju-baju yang kita kenakan. Hanya saja saya juga sadar bahwa di balik baju itu ada satu wadah yang sama. Dan, di situlah saya merasa bahwa pertengkaran mengenai agama menjadi sangat konyol. Sebab, di situ kita justru bertengkar mengenai effect, bukan cause. Kita mempertengkarkan akibat, bukan sebabnya.

ULIL: Anda tadi menyentil soal baju-baju yang dipertengkarkan banyak orang. Anda juga telah mengelana di berbagai agama. Pertanyaan saya, siapa figur tokoh agama atau orang bijak yang Anda kagumi?

DEE: Yang membuat saya paling terkesan sebenarnya Khrisna Murti, karena dia juga orang yang melepaskan diri dari denominasi. Saya juga mengagumi Kahlil Gibran, dan juga Paramhansa Yogananda.

ULIL: Tampaknya agama Hindu sangat memikat anda. Ini terlihat dari pemakaian simbol Omkara dalam novel sampul buku Supernova Dua. Itu permintaan Anda?

DEE: Ya, itu memang permintaan saya. Tapi sebenarnya saya tidak melihat Hindunya pada saat itu. Waktu itu, saya pernah membaca salah satu penelitian sains. Dari situ, kata “om” resonansianya berkaitan erat dengan sebuah kelenjar dalam otak kita yang menurut para saintis berfungsi seperti konektor antara kita dengan Tuhan. Jadi “om” bisa mengaktivasi kelenjar tersebut. Di sinilah saya melihat adanya universalisme simbol; bahwa “om” sebetulnya tidak bisa diklaim oleh agama apapun, karena dia merupakan suatu fenomena universal.

ULIL: Apa perasaan Anda ketika diprotes Forum Intelektual Muda Hindu Dharma (FIMHD) di Bali karena Anda menyantumkan simbol Omkara/Aum yang merupakan aksara suci Brahman Tuhan yang Maha Esa dalam agama Hindu di cover novel Anda?

DEE: Itu merupakan pengalaman yang sangat berharga. Saya menjadi tahu, memang ada level-level dalam kesadaran keberagamaan yang tidak bisa dihindari. Bahwa level-level kesadaran itu memang terjadi dan ada. Bagi kalangan yang mungkin belum sampai memahami bahwa kita ini wadah yang satu, mereka akan sulit untuk menerima pengakuan bahwa “Om” itu bukan milik dia saja.

ULIL: Ada pendapat mengatakan bahwa sebenarnya Tuhan tidak membeda-bedakan agama. Yang penting bagi Tuhan adalah perberbuatan baik manusia terhadap sesama. Bagaimana konsep surga dan neraka dalam pandangan Anda?

DEE: Menurut saya, surga dan neraka sudah kita ciptakan di dunia ini. Ada orang yang menciptakan surga di dalam kehidupannya, dan ada yang malah menciptakan neraka bagi dirinya dan orang lain. Kalau ada pejabat yang korup sementara masyarakatnya menderita, berarti dia sedang menciptakan neraka. Menurut saya, jika kita justru menjauhkan surga dan neraka dengan menjadikannya sebagai tujuan yang baru akan kita capai setelah mati, sesungguhnya kita telah banyak menggabaikan hal-hal penting yang mestinya harus sudah kita ciptakan dalam hidup ini.

ULIL: Apakah Anda sedang menggemakan pemikiran Calvin?

DEE: Barangkali begitu. Menurut saya, yang nyata ada adalah jiwa yang tersesat dan jiwa yang menemukan rumahnya kembali. Mungkin, apa yang oleh pengertian umum disebut neraka, manifestasinya ada dalam jiwa yang tersesat, yang ketika meninggal dia belum tahu jati dirinya siapa: apakah dia bagian dari Sang Pencipta atau bukan. Dan soal Tuhan mungkin tidak akan menghukum, saya sebenarnya sependapat.

Bagi saya, hakikat menjadi manusia adalah bagaimana mampu menemukan jati diri sendiri dan memiliki manfaat secara horisontal bagi kehidupan sosial, serta memiliki hubungan yang baik secara vertikal dengan Sang Pencipta. Semua itu sudah terlepas dari agama (beyond religion). Agama itu kan bersifat institusional.

Kadang-kadang, orang-orang yang kita sebut menganut animisme, dinamisme, bahkan ateisme sekalipun, bukan serta merta menjadikan orang yang tidak bermoral. Orang Indian yang punya tradisi meminta izin dulu sebelum memetik setangkai daun, bisa jadi lebih beradab dari mereka yang doyan ngebohongin rakyat. [www.blogberita.com]

source : http://bataknews.wordpress.com/2007/08/08/aku-tak-suka-lagi-ke-gereja-tapi-suka-baca-bibel/

No comments: